Menangkap peluang usaha dari kekumuhan kota, sebuah titipan untuk teman2 Business Development Services – Lembaga Pengembangan Usaha ( BDS-LPU).

17 Oktober 2009 at 5:47 pm Tinggalkan komentar

Salam sukses untuk orang super Indonesia, teman sering kita hanya melirik dan bahkan mencibir saat kita mulai mengembangkan suatu klaster UMKM di kota kita , sementara kita sering hanya diberikan dan mendapatkan kebanggaan bahwa kita mampu menemukenali bagaimana klaster UMKM di kota kita harus dikembangkan namun kita tidak berani mendekati sistem klaster usaha yang sepanjang sejarah belum pernah mengalami kemerosotan ataupun kehancuran usaha nya , bahkan pada saat kita diajak untuk mendekatinya pasti muncul rasa enggan dan malu , klaster yang satu ini memang unik dan kumuh namun berkembang secara sempurna sebagai rantai nilai dalam klaster industri – Klaster barang loakan/rongsok/barang bekas ( kertas , plastik, besi, dll ), adakah diantara teman-teman BDS/LPU yang sudah mendekat dan mengenal mereka ?

Ilustrasi diatas adalah awal pembicaraan kita pagi ini, bahwa ternyata kekumuhan kota kita menyimpan nilai rupiah yang sangat besar bukan hanya ribuan ataupun jutaan namun bahkan isa mencapai Milyard rupiah yang hingga saat ini belum disentuh oleh teman-teman . Kekumuhan kota kita muncul dan diawali oleh perilaku kita yang jorok dan kemproh (jawa-red), disadari atau tidak sering kita membuang sampah se enaknya bahkan kalau kita tinggal dikampung sering kita buang sampah kepinggir tanah pekarangan ataupun kepinggir saluran/sungai. Padahal apabila kita mau lebih jeli kita bisa dan mampu menyusun usulan kepada pemerintah kabupaten / kota di daerah kita bagaimana mendorong masyarakat kita agar bisa berperilaku lebih baik dan lebih sehat , yang tentunya diawali dengan kemauan membuang dan memisahkan sampah sesuai dengan kelompoknya. Dimana peran BDS /LPU – bisa sebagai inisiator untuk mengawal tercapainya Standar Pelayanan Minimal (SPM ) di kabupaten /kota masing-masing. Standard Pelayanan Minimal (SPM ) sesaui (PP 65/2005) adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal. Oleh karena itu adalah kewajiban bagi pemkab dan pemkot sebagai penyelenggara pemerintahan di daerah untuk memberikan pelayanan dasar / minimal sanitasi dan kebersihan bagi warganya. dan kalau teman- teman mau lebih jeli lagi bisa mengawal Kepmen Kimpraswil 534/KPTS/M/2001 tentang Pedoman Penentuan Standard Pelayanan Minimal (SPM) untuk Bidang Pelayanan Prasarana Lingkungan (termasuk SPM Pengelolaan air limbah, Persampahan dan Drainase) yang sudah sangat rinci.

Dimana BDS /LPU bisa berperan , penanganan Limbah dan sistem sanitasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada warganya namun sudah menjadi tanggung jawab bersama warga di kabupaten/kota, disinilah seharusnya BDS/LPU mampu menunjukkan peran sebagai inisiator dan mengawal proses pengembangan kelembagaan yang akan berbicara mengenai Saniltasi dan Penanganan Sampah lingkungan di daerah, untuk lebih jelasnya teman2 bisa mendekat pada pemegang program ISSDP ( tidak semua daerah dapat) , untuk yang belum dapat program ISSDP sebenarnya bisa mengajak SKPD dan Stakeholder di daerah nya untuk mulai membicarakan pembentukan kelembagaan yang akan mengawal penanganan Sanitasi dan Persampahan. Bagaimana kalau ternyata belum berhasil (mungkin karena faktor ego sektor dari SKPD masih kuat ) , teman2 tidak perlu berkecil hati mulai bergerak dan ambil langkah sendiri. Buat proposal ke Pemkab / Pemkot tentang pengelolaan Sampah Rumah tangga, ajak investor untuk mendatangkan Instalasi Pengolah Kompos Kota ( Roatry Kilndry).- produksi kompos kota – jual komposnya.

Setiap Pemkab /Pemkot mempunyai anggaran untuk mengangkut dan membuang sampah dari TPS menuju TPA nya , minta anggaran ini untuk mendukung operasional IPKK yang akan anda bangun (BDS/LPU) , karena dari TPS di lingkungan Rt/Rw atau pasar kecamatan sudah tidak memerlukan biaya pengangkutan sampah menuju TPA, untuk yang satu ini memang di tuntut transparansi dan kejujuran dari pengguna anggaran untuk menyebutkan berapa alokasi biaya angkut sampah dari TPS menuju TPA per sekali angkut. Dengan pendekatan pengembangan sektor usaha baru BDS/LPU  bisa menunjuk pihak ke 3 sebagai tenaga pengelola ataupun menyediakan lapangan kerja sekurang- kurangnya untuk 5 Tenaga kerja untuk tiap unit IPKK , kemana harus menjual Kompos/ pupuk organik cair yang di hasilkan – bisa ke Dinas Pertanian , ke masyarakat dan bahkan bisa export – kalau mau kerja sama dengan jaringan /network BDS DLI kami menjamin pasar hasil komposnya dengan kontrak pemasaran, namun untuk menjaga mutu kompos yang dihasilkan maka members/client harus menggunakan aktifator/Biophosko pengurai  yang kami sediakan. Bagaimana seandainya IPKK mempunyai pasar dengan harga lebih baik dari Network BDS DLI – tidak masalah semua masih dalam koridor bisnis atau usaha harus berpegang pada prinsip nilai output ataupun harga jual yang lebih baik.

Bagaimana dengan peluang usaha yang lain, sebagai lembaga konsultan BDS/LPU dapat menjadi konsultan yang mengawal proses penanganan Sanitasi lingkungan di daerah, mendorong lahir nya operator sanitasi dan tentunya harus ada insentif khusus dari pemkab/pemkot ( kembali pada kejujuran & tranparansi dari pengguna annggaran –SKPD), BDS/LPU bisa berperan dalam advokasi kebijakan Sanitasi . BDS bisa mendorong investor dari pemkab/pemkot dalam bentuk UPT/BLU untuk mengembangkan sistem penanganan Sanitasi terpadu dimana terdapat Instalasi pengolah limbah (tinja) yang mampu menghasilkan gas dan kompos  

Sekian dulu ya

Entry filed under: Pertanian Organik. Tags: .

Mengapa harus kita khianati UUD’45 ? Mengenal Live wire dari Shell

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Mas Subejo menulis….

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS IPB Bogor

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Desa Mandiri Mlatiharjo

Desa Mandiri Mlatiharjo Demak (17)

Desa Mandiri Mlatiharjo Demak (16)

Desa Mandiri Mlatiharjo Demak (15)

Desa Mandiri Mlatiharjo Demak (14)

Lebih Banyak Foto

Feeds


%d blogger menyukai ini: