Mengapa harus kita khianati UUD’45 ?

13 Januari 2009 at 6:42 pm Tinggalkan komentar

Founding Father dari negeri NKRI telah menggariskan cita-cita pndirian negeri ini adalah negeri yang berdasarkan pada nilai-nilai sosial kehidupan ber bangsa an ber negara ,bukan negeri Kapitalis yang saling memangsa antara yang kuat dengan yang lemah terlebih lagi pergeseran nilai yang terkesan telah menjadi Negeri Liberal tanpa kendali sehingga telah melahirkan pemahaman-pemahaman yang jauh dan menyimpang dari cita-cita pendirian Negeri ini yang semakin hari terasa semakin terpuruk dan hanya mampu mengutuk dan menyesali diri.

Sejarah telah membuktikan jaman Majapahit, Demak Bintoro, Mataram Sultan Agung Negeri tercinta telah terbukti mampu mencukupi kebutuhan Pangan dan Rempah Dunia sehingga pada jamannya Negeri Nuswantara ini sangat potensial sebagai pensuplay kebutuhan Dunia ( abad 16 – 18 Masehi ) sejarah membuktikan ketertarikan Bangsa – bangsa Eropa menguasai Negeri Nuswantara adalah semata – mata karena segala kebutuhan umat manusia di dunia ini hampir semuanya telah dapat dicukupi oleh hasil bumi dari Nuswantara ini. ( Kecuali bagi yang melupakan sejarah kejayaan negeri di Nuswantara ).

Pesan dari sang Pemimpin besar Revolusi adalah janganlah kita sampai melupakan sejarah , pesan yang sederhana namun sarat makna ini tampak nya hampir telah dilupakan oleh segenap penentu kebijakan di Negeri ini, sementara masing-masing berusaha sekuat mungkin untuk enjadi yang terkuat dan terbesar sehingga dalam melangkah banyak yang enjadi Machiavalis ( mennghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan) ( ada yang dengan kebesarannya membangun suatu sistem dan upaya perundangan sehingga pada saat nya mampu mengesahkan segenap usulan yang diajukan dalam pembahasan dipersidangan dan melahikan kebijakan baru yang nyata-nyata hanya untuk kepentingan kelompok tertentu yang semuanya berartribut atas nama rakyat dan untuk rakyat ) ( terkadang timbul pertanyaan rakyat yang mana ? )

Disadari atau tidak pada era Orde baru banyak muncul ide – ide dasar yang sangat briliant untuk mengisi kemerdekaan di Negeri ini, sehingga pada Era 1983-1985 tercapai apa yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita yakni Swasembada Pangan dan sayangnya tanpa disadari pada awal era orde baru tersebut kita mulai mengkhianati dasar dasar pendirian negeri ini, pemahaman sementara yang pada akhirnya menjadi paradigma dasar pembangunan yang jelas-jelas sangat melanggar UUD’45, namun secara musyawarah dan mufakat sebagaimana telah disiapkan dalam sistem perundangan yang mengatasnamakan petunjuk pelaksanaan dari UUD’45.dalam tataran awal pembangunan adalah sah -sah saja namun pada saat nya sudah harus menata pondasi ekonomi maka harus segera dilaksanakan sesuai dengan amanat UUD ’45 itu sendiri, Yang dimaksud dengan pengkianatan terhadap undang-undang adalah pada awal kebijakan menetapkan subsidi pada kebutuhan pokok , yang dimaksud kebutuhan pokok dalam UUD’45 adalah Hak dari segenap bangsa tumpah darah Indonesia untuk mendapatkan Kesehatan dan Pendidikan sedangkan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran akan kita perjuangkan bersama secara gotongroyong ( Pidato Founding Father pada HUT Pancasila 1960 ).

Artinya kebijakkan awal boleh saja menetapkan suatu subsidi terhadap sektor ekonomi langsung ( BBM dan bahan pokok) akan tetapi senantiasa harus bersifat sementara dan harus segera di cabut atau diusahakan untuk segera mengurangi subsidi itu sendiri, namun dalam perjalanan perjuangan pembangunan negeri ini yang berkelanjutan adalah subsidi pada sektor konsumsi yang berkelanjutan sehingga semakin jauh dari tujuan dan cita-cita pendirian negeri ini.  Terlebih lagi paradigma yang sudah tertanam semakin kuat bahwa Daya saing Ekonomi rakyat negeri ini hanya akan semakin kuat apabila banjir subsidi dimana-mana, namun kenyataan yang ada adalah ketidakmampuan sistem kita dalam mengawasi subsidi itu sendiri mandiri, sehingga semakin hari menjadi hari hari yang semakin menyedihkan dalam kehidupan berbangsa an bernegara dari mulai krisis Ekonomi yang menjadi KRISDAYANTI ( KRISIS KETELADANAN ,KRISIS PELAYANAN DAN KRISIS HATI NURANI). 

Kini sudah saatnya kita bangun dari mimpi dan mengoreksi diri bahwa untuk mewujudkan kemandirian ekonomi bukan dengan menuntut subsidi akan tetapi kita harus mampu dan mau meningkatkan produktifitas ekonomi dengan memperbesar produksi komoditas kita, negeri ini mendapat limpahan sinar matahari yang sangat besar maka negeri ini harus menguasai produk komoditas strategis dunia. Semua orang tahu bahwa energi masa depan adalah energi nabati ( akan tetapi jangan lahan sawitnya digadaikan ke konglomerat internasional dengan dalih investasi dong). Negeri ini adalah negeri Nyiur melambai , mengapa tidak kita kembalikan kejayaan Nyiur melambai karena kita tidak yakin dengan warisan leluhur kita . Seandainya dari setiap jengkal tepi pantai sepanjang nuswantara ini masih penuh dengan Nyiur melambai niscaya kita tidak akam mengalami krisis energi yang memberatkan ekonomi rakyat ( maklum kita sudah mengesahkan bahwa Enaergi harus disubsidi).

Disadari atau tidak secara nasional daya saing kemampuan SDM kita pada akhirnya akan semakin terpuruk karena sebagai akibat dari paradigma pemahaman sistem subsidi yang salah maka pemerintah mendapat pengesahan dari DPR untuk bersama-sama mengkhianati amanat UUD’45. Sehingga pesan kami siapapun yang akan memimpin negeri ini harus berani mewujudkan amanat UUD’45 dan tentunya dengan langkah-langkah strategis ; mengaudit sistem perminyakkan Nasional, membangun sisten pertanian yang berbasis pada peningkatan produktifitas komoditas; membangun sistem industrialisasi pedesaan sehingga komodistas pertanian keluar dari desa sudah mempunyai nilai tambah , mengurangi pembangunan sistem industri pengolah komoditas pertanian tidak diperkotaan, menciptakan pusat-pusat ekonomi pedesaan di desa dengan demikian pemerataan pembangunan akan segera terwujud dan mengurangi/mencabut sistem Subsidi ( BBM dan Subsidi pada sektor-sektor strategis pupuk,bunga kredir dll). mewujudkan sistem kesehatan dan pendidikan sesuai dengan amanat UUD’45. Untuk menuju pada pencabutan subsidi BBM maka perlu diambil langkah strategis dengan pengkayaan penanaman komoditas yang berpotensi menghasilkan Bio Energi ( Kelapa,Sawit,Tebu, Kedelai,Jagung dll). Belajar dari Brasil salah satu negeri di Amerika Latin yang ikut terpuruk karena krisis energi tahun 1998 namun saat ini dudah tidak terpengaruh secara ekonomi sebagai akibat kenaikan harga minyak dunia, karena pada awal tahu 1998 menuju tahun 2000 Brasil berhasil memperluas penanaman tanaman tebu sebagai bahan dasar BioEthanol sehingga kebutuhan BBM nya dicukupi dari industri petani pengolah BioEthanol. pertanyaannya kalau mereka bisa mengapa kita tidak ? Silahkan cari jawabnya , salah satu jawabnya adalah kita memang tidak mau peduli dengan dunia pertanian kita karena dengan adanya kebijakan subsidi banyak pihak yang mendapat bagian dari subsidi itu sendiri.          

Entry filed under: Berita. Tags: .

Kisah Tentang Avuur Kuncir Menangkap peluang usaha dari kekumuhan kota, sebuah titipan untuk teman2 Business Development Services – Lembaga Pengembangan Usaha ( BDS-LPU).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Mas Subejo menulis….

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS IPB Bogor

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Desa Mandiri Mlatiharjo

Desa Mandiri Mlatiharjo Demak (17)

Desa Mandiri Mlatiharjo Demak (16)

Desa Mandiri Mlatiharjo Demak (15)

Desa Mandiri Mlatiharjo Demak (14)

Lebih Banyak Foto

Feeds


%d blogger menyukai ini: