Kendala Pengembangan Klaster

10 Mei 2008 at 7:06 am Tinggalkan komentar

Kendala secara umun dalam pengembangan klaster pertanian di Jawa Tengah antara lain :

1. Pelaku usaha ( UKM ) :

  • Pemahaman penggunaan pupuk dan pola pemupukan masih kurang.
  • Kemampuan management produksi yang masih sangat rendah menyebabkan kualitas buah dan jaminan pasokan hasil panen ke pasar belum sesuai dengan harapan.
  • belum ada pelatihan secara teratur, terpadu dan menyeluruh.
  • Penanganan hasil produksi pasca panen ( kemasan /pengawetan /pengolahan) masih rendah.
  • Sulit mencari metode pembanding untuk peningkatan kemampuan dan kualitas budidaya.
  • Belum siap memasuki pasar lelang karena jejaring antar pelaku belum berkembang sehingga masih ada perasaan saling mewaspadai antar pelaku karena masih menempatkan sebagai pesaing bukan sebagai mitra yang saling menumbuhkan dan menguatkan sesama pelaku.
  • Kuatnya pengaruh global yangbersifat kapitalistik sangat melemahkan daya saing , karena di antara pelaku muncul persaingan.
  • belum ada kesadaran untuk kerja sama mengembangkan network antar UKM pelaku.

2. Instansi Pembina yang terkait:

  • Banyak program yang masih berorientasi proyek, dengan penguasaan materi yang sangat terbatas.
  • Perlu peninjauan dan pengkajian yang mendalam dan berkesinambungan yang bukan sebagai target proyek untuk memenuhi tuntutan anggaran saja, tetapi harus mampu merumuskan substansi dasar dari permasalahan yang ada pada lini terendah / UKM pelaku.
  • Metode dan program pembinaan yang pernah dilakukan, tidak memberikan penguatan jejaring , akan tetapi yang muncul persaingan lokal yang tidak siap menghadapi pengaruh persaingan global.
  • Perlu lebih selektif dalam memberikan pembinaan penguatan pelaku usaha.
  • Petugas lapangan harus mulai dikembalikan fungsi dan perannya sebagai pendamping dan penyuluh yang handal sehingga benar-benar mampu menyajikan informasi yang akurat dan dapat memberikan pembinaan yang tepat dan tidak terlambat apabila sewaktu-waktu muncul masalah.

3. Pemasaran:

  • Perlu disiapkan program pemasaran yang disesuaikan dengan kemampuan produksi dari tiap lini usaha, dengan penyajian data dan informasi yang akurat,bukan sekedar data fiktif.

  • Penanaman pemahaman pengembangan jejaring uasaha ( net working), secara terus menerus kepada setiap pelaku usaha
  • Perlu alokasi pendanaan pembinaan UKM yang bersifat bantuan subsidi pengembangan UKM dengan mengikuti event pameran-pameran dagang.
  • Perlu peningkatan program pelatihan pemasaran dan penetrasi pasar.

4. BDS Pendamping di Tingkat Kabupaten:

  • Kemampuan BDS Pendamping terbatas karena pendampingan oleh BDS yang umumnya masih bersifat sosial.
  • Perlu pelatihan & penguatan BDS Pendamping , agar mampu menjadi motor ujung tombak UKM /Klaster dalam menembus pasar.
  • Keengganan UKM menginvestasikan dana dalam bentuk pembiayaan jasa konsultasi, promosi, yang telah dikerjakan oleh BDS

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Peluang Investasi di Kabupaten Demak

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Mas Subejo menulis….

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS IPB Bogor

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Desa Mandiri Mlatiharjo

Desa Mandiri Mlatiharjo Demak (17)

Desa Mandiri Mlatiharjo Demak (16)

Desa Mandiri Mlatiharjo Demak (15)

Desa Mandiri Mlatiharjo Demak (14)

Lebih Banyak Foto

Feeds


%d blogger menyukai ini: